Menikmati Sepeda Motor, Sampai Kapan?

Bagi sebagian besar orang di Indonesia motor terkadang menjadi bagian tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidupnya. Yup, ditengah kebobrokan transportasi publik dan karut marutnya situasi berlalulintas yang melanda republik ini maka sepeda motor menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat dalam melaksanakan mobilitasnya. Lantas bagaimana sepeda motor menurut saya? Jujur saja, sebagai pencinta sepeda motor saya merasa beruntung karena bagi saya sepeda motor bukanlah sarana mobilitas atau alat transportasi yang utama. Kenapa? Karena saya beruntung memiliki aktivitas sehari-hari yang tidak jauh dari tempat tinggal, jadi ya mondar-mandir jalan kaki ae:mrgreen:.

Sepeda motor ada dimana-mana, dimana-mana ada sepeda motor:mrgreen:

Lho? Katanya cinta sama motor kok seneng sehari-hari jalan kaki? Buat saya yang penting dari berkendara sepeda motor itu bukanlah kuantitasnya, tapi kualitasnyaūüėÄ. Menurut saya akan menjadi sangat menyebalkan jika sepeda motor yang saya cintai itu justru jadi sumber stress manakala saya harus memacunya setiap hari menembus belantara kemacetan Jakarta, buat saya sih gak ada nikmatnya:mrgreen:. Pernah saya coba menghitung, motor yang saya miliki saat ini rata2 dalam seminggu hanya memiliki jarak tempuh120an kilometer saja. Adapun 80an kilometer diantaranya adalah hasil dari rutinitas tiap akhir pekan, yakni pulang ke rumah orang tua di Tangerang tiap sabtu malam dan balik lagi ke tempat kost di Rawamangun pada minggu malam. Dengan kata lain dari senin sampai jumat motor dipakai gak lebih dari 40an kilometer saja, karena motor dipake cuma buat kalau ada keperluan tertentu saja (seperti kopdar bersama orang2 stress di OBI:mrgreen: ) dan itupun untungnya seringkali di malam hari. Kok beruntung di malam hari? karena saat itu traffick jakarta sudah tidak terlalu “beringas” jadi kenikmatan berkendara masih bisa saya dapatkanūüėÄ.

Motor saya ini lebih sering nangkring di parkiran Rumah Kost ketimbang mengaspal di jalanan Jakarta:mrgreen:

Well, sekarang sih saya masih bisa berucap syukur alhamdulillah karena masih memiliki kesempatan untuk menikmati berkendara sepeda motor. Namun didalam benak saya muncul kekhawatiran, jika Tuhan mengizinkan maka saya berharap masih bisa hidup lebih lama lagi, dan saya tentu tidak mengetahui akan seperti apa masa depan bukan? Siapa tahu kelak saya akan berhadapan dengan keharusan untuk melakukan aktivitas dan mobilitas yang jauh dari tempat saya tinggal. Saat itu terjadi, saya berharap bisa menggunakan  transportasi publik (yang semoga nantinya semakin memadai) sehingga saya bisa menggunakannya dan lagi-lagi tidak perlu mengendarai motor untuk beraktivitas sehari-hari. Dengan begitu maka kualitas dan kenikmatan saya saat berkendara motor tidak perlu tercederai dengan stress menghadapi karut marutnya lalulintas ibukota.

Saya tentunya berharap kelak transportasi publik di negeri ini bisa semakin aman, nyaman dan terjangkau. Dengan transportasi publik yang aman, nyaman dan terjangkau¬†¬†maka tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sepeda motor dapat berkurang. Masyarakat tentu masih akan tetap memiliki sepeda motor, namun dengan keberadaan transportasi publik yang memadai maka masyarakat memiliki moda transportasi alternatif dalam melakukan mobilitas, tanpa perlu capek, tanpa perlu stress. Biarlah sepeda motor cukup menjadi sarana “rekreasi” semata. Yup, seperti di Jepang saja… mereka tetap punya motor dan mobil tapi sehari-hari tetap naik kereta atau bus. Haruskah kondisi seperti di Jepang tersebut sekedar menjadi mimpi belaka untuk Indonesia? Semoga tidakūüôā

About Azdi - SociusRider

Motorcycles make us dream. They have different colours, they have different sounds. They have shapes that sometimes show what inspired their designers. Sometimes these creations are real works of art that turn the designer into an artist. (Claudio Castiglioni)

Posted on Juni 20, 2012, in Social Stuff and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. pembenahan transportasi masal yang memadai, aman dan terjangkau harus searah dengan perbaikan sarana dan prasarana serta pembatasan produksi sepeda motor itu sendiri,,,karena mayoritas saudara2 kita akan lebih bangga menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan transportasi publik,,,

  2. wah.. saya tiap bulan pasti jalan 3000km mas pake Pio. Berat di perawatan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

bennythegreat.wordpress.com

the past that build the present and design the future

KheziaMetta

Shoot me if u can !

macantua.com

all about ride, drive and life........

ARIPITSTOP

otomotif, campur campur, gado gado

Aa Ikhwan Blog

Belajar - Bertakwa - Berjuang

Maskur's Blog

Menyusuri Jalan Rusak

VALKYLA1723

Sekedar Coretan di Kala Senggang

Triyanto Banyumasan Blog's

Belajar dan Terapkan

@ndaholmes's Blog

A topnotch WordPress.com site

DWI OKTA NUGROHO

Lebih Baik Beruntung daripada Pintar

BLOGNYA TIGER ITEM

[saferide:bikersafe]

Yayuk Sentul's Blog

A Project of Yayuk Sentul's Diarrheea... (Diary maksudnya)

Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Rudi Triatmono Personal Blogs

A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

Edo Rusyanto's Traffic

Edo Rusyanto's Traffic

MotoGP Tale

Berita Terbaru MotoGP

Joe Trizilo

Personal Blog

%d blogger menyukai ini: