Sepeda Motor Itu Candu
Posted by Azdi - SociusRider
Pemotor atau sering disebut juga dengan Bikers di Indonesia memang luar biasa, seabreg fenomena terjadi dalam lika-liku kehidupan khas pemotor di Indonesia. Di negeri ini jutaan orang bergantung kepada sepeda motor sebagai moda transportasi utama dalam aktivitas kesehariannya. Sepeda motor tentunya juga berperan besar dalam melancarkan arus mobilisasi ekonomi warga, ditunjang oleh harga yang terjangkau (dengan adanya skema kredit) dan fleksibilitasnya yang tinggi. Namun dibalik itu semua tersimpang kengerian yang semakin mencekam dari hari ke hari. Sepeda motor yang teramat besar manfaatnya tersebut nyatanya adalah salah satu aktor dominan dari 80-an nyawa yang terenggut setiap harinya di jalan raya (data Korlantas Polri 2011).
Dinamika sepeda motor di Indonesia laksana candu yang nikmat, memikat, mengikat, sekaligus siap membuatmu sekarat. Sepeda motor itu nikmat, saking nikmatnya sampai-sampai saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Sepeda motor juga memikat seiring tiada hentinya godaan setiap brand dalam mempromosikan produknya. Sepeda motor juga mengikat seiring dengan terjerumusnya masyarakat pada ketergantungan yang teramat sangat terhadap sepeda motor. Tanpa adanya transportasi publik yang efisien, nyaman, aman, dan tepat guna tentu tidak ada pilihan lain bagi banyak orang selain menggunakan sepeda motor sebagai sarana mobilitasnya sehari-hari.
Bukan hanya masyarakat yang terikat terhadap sepeda motor, bahkan pemerintah sebagai muara dari setiap legal hukum di negeri ini pun tak lepas dari jerat si roda dua. Katakanlah pemerintah saat ini sudah kehilangan wibawanya dan harus tunduk dibawah ketiak industri otomotif yang masih dikuasai asing. Kegagalan pemerintah dalam menyediakan kantung pengaman sosial dalam sektor ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat membuat negeri ini membutuhkan eksistensi industri otomotif yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang fantastis. Melihat ketergantungan tersebut maka jangan heran kalau lebih banyak kebijakan pembangunan ruas jalan – yang sejalan dengan kepentingan industri – ketimbang pengadaan transportasi publik yang apik. Boleh dibilang pemerintah terlanjur butuh keberadaan industri otomotif agar masyarakat negeri ini tidak tambah miskin. Lucunya, yang kemudian terjadi adalah semakin tingginya pembelian sepeda motor dan masyarakat di negeri yang katanya masih berkembang ini akhirnya terus mengalirkan uangnya ke kantong-kantong industri otomotif, lingkaran setan.
Layaknya candu, sepeda motor juga punya potensi negatif yang siap membuat sekarat saat semuanya terlena. Semakin tingginya tingkat kepemilikian sepeda motor sayangnya tidak diiringi dengan mentalitas berkendara yang apik di kalangan pemotor itu sendir, dikombinasikan dengan penegakan hukum berlalulintas yang lemah maka melayanglah puluhan nyawa tiap hari di jalan raya. Lantas siapa yang salah dengan kondisi menyedihkan tersebut? Terlalu naif untuk menyudutkan satu pihak sebagai biang kerok neraka jalanan di negeri ini, setiap orang (termasuk saya sendiri) punya peran dalam terciptanya realitas yang terjadi saat ini. Yang jelas kita butuh mentalitas pemotor yang apik, industri yang sehat, serta pemerintah yang tegas dan memihak rakyat, kapan teruwujudnya ya?
Mukhammad Azdi
Share this:
Tentang Azdi - SociusRider
Motorcycles make us dream. They have different colours, they have different sounds. They have shapes that sometimes show what inspired their designers. Sometimes these creations are real works of art that turn the designer into an artist. (Claudio Castiglioni)Posted on Desember 27, 2012, in Social Stuff and tagged ironi, realitas, road safety, sepeda motor, transportasi publik. Bookmark the permalink. 7 Komentar.













KAPAN KAPAN BRO!
Tetap semangat broooo
candu itu = Can’t do
kapan kapan sambil nyarap nasi uduk adinda berrrooo
Siap berrooooo
yah itulah Indonesia…
Ping-balik: Jadilah Peminum, Bukan Pemabuk « Sociusrider.wordpress.com